Karya: Novia Rhoza
Sering ku terdiam berpikir melamuni apa yang
sebenarnya terjadi dan sering ku bertanya pada Tuhan mungkin sudah berpuluh-
puluh atau bahkan hingga beratus kali pertanyaan yang sama ku tanyakan pada
Tuhan namun tak pernah ku mendapatkan jawaban yang selama ini ku cari.
Namaku
Vania, aku adalah siswi Sekolah Menengah Atas di salah satu Sekolah Swasta yang
ada di Bandung. Walaupun umurku sudah menginjak usia 17 tahun tapi jujur aku
belum pernah merasakan apa itu arti dicintai, bukan karena aku tidak pernah
merasakan jatuh cinta tapi memang karena rasa cinta itu tak pernah terbalaskan.
*** Di Sekolah***
Nampak
dari kejauhan terlihat sosok pria tinggi berpenampilan rapi dan berwibawa
berjalan menghampiri ruangan disebrang kelasku. Aku tak tahu mengapa setiap
kali aku melihatnya jantung ini serasa berdetak lebih kencang dan seakan ingin
keluar dari dalam tubuhku. Tuhan, mungkinkah aku menyukainya? Dan mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
“Van, kamu liat nggak tadi cowok yang jalan
ke arah sebrang kelas kita?” tanya Linia teman terbaikku
“Hemm liat, itu Arya kan?” tanyaku balik.
“Iya bener banget, ya ampun Van Arya ganteng
banget ya?”
“Linia kamu suka ya?”
“Iya.” Jawab Linia singkat sambil pergi
meninggalkanku yang masih tak percaya mendengar perkataan Linia tadi.
Tuhan
apa yang harus aku lakukan ternyata temanku sendiripun diam- diam menyukai
orang yang selama ini aku kagumi. Tuhan aku harus bagaimana? Apakah aku harus
melupakan orang yang aku kagumi demi temanku.
Akhirnya
dengan perlahan aku lebih memilih meninggalkan perasaanku selama ini dan
membiarkan temanku menyukai orang yang aku kagumi dan harapkan kehadirannya
disampingku.
*******
Lama
kelamaan aku mulai terbiasa dengan perasaan ini dimana aku melihat temanku
bahagia dengan dia dan mungkin diapun lebih bahagia dengan temanku disampingnya.
Jujur untuk membiasakannya bukanlah hal yang mudah untukku, itu semua membuatku
cukup tersiksa dan menderita.
Namun
perasaan tersiksa itu perlahan- lahan mulai menghilang disaat aku mengenal
sosok Kiki yang tak lain adalah teman satu kelasku. Kini aku mulai mengerti
arti kehilangan demi mendapatkan sesuatu yang lain sesuatu yang menurutku jauh
lebih istimewa dibandingkan dengan yang sebelumnya.
Tapi
belum sempatku merasakan kebahagiaan itu dengan lama, kenyataan pahit harus
sudah siap ku jalani dimana aku tahu lagi lagi dan lagi salah satu teman
terbaikku diam- diam mengagumi Kiki. Dan mungkin yang lebih sakitnya lagi dia
bukan hanya mengaguminya tapi bahkan menyukainya dan sangat menginginkan
kehadirannya. Tuhan apa yang harus aku lakukan lagi? Apa harus aku
melepaskannya demi temanku lagi? Tuhan jujur aku sudah cukup tersiksa dengan
yang sebelumnya, tapi Tuhan akupun tak ingin bersaing dengan temanku sendiri
karna aku tak ingin kehilangan teman terbaikku. Bantu aku Tuhan untuk merelakan
dia bersama temanku dan permudahkanlah aku untuk mengikhlaskannya walau aku
tahu Tuhan itu takkan mudah bagiku.
Akhirnya
dengan perasaan yang cukup memberatkanku ini, lagi lagi dan lagi aku merelakan
orang yang aku kagumi kulepaskan untuk teman terbaikku dan berharap suatu saat
nanti ini tak akan pernah terjadi lagi kepadaku.
*******
Hingga
suatu hari aku mulai mendapatkan jawaban dari harapanku dimana untuk kali ini
aku mengagumi orang yang temanku tak mengaguminya. Namun itu tak semudah dan
seindah yang ku pikirkan. Karena memang kali ini aku bukanlah bersaing dengan
temanku melainkan aku bersaing dengan perasaanku sendiri yang harus merelakan
orang yang aku kagumi tenyata dia lebih mengagumi teman terbaikku, dimana aku
tahu perasaan yang ada saat ini adalah salah dan seharusnya ini tak pernah
boleh terjadi. Tuhan, aku mengagumi dan menyukai dia dan aku tak tahu apakah
dia kelak akan menyukaiku pula. Tuhan, aku tahu perasaan ini salah dan jika kau
ijinkan aku ingin menghapus semua perasaan yang datang menyapaku saat ini dan
aku lebih memilih untuk tak pernah merasakannya jika aku tahu kalau pada akhirnya
aku harus terluka dengan semua ini.
Tuhan
jika memang dia bukan untukku dan jika memang aku tak dapat mengenggam atau
bahkan aku tak bisa menyentuhnya sekalipun, maka ijinkan aku Tuhan untuk
memberikan sisa umurku untuk mengaguminya walau dalam hati saja. Dan aku sadar
Tuhan aku tak dapat menuntutMu untuk membuatnya bisa menyukaiku. Kan kutunggu
semuanya mengalir apa adanya seperti air dan berharap Engkau bisa membuat ia
setidaknya mengerti bahwa aku disini mengaguminya dan berharap dapat
memilikinya tapi bukan untuk ia kasihani karena perasaanku padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar