followers

Jumat, 02 November 2012

tuhan, mengapa harus aku?

Tuhan, mengapa harus aku???
Karya: Novia Rhoza

Sering ku terdiam berpikir melamuni apa yang sebenarnya terjadi dan sering ku bertanya pada Tuhan mungkin sudah berpuluh- puluh atau bahkan hingga beratus kali pertanyaan yang sama ku tanyakan pada Tuhan namun tak pernah ku mendapatkan jawaban yang selama ini ku cari.
            Namaku Vania, aku adalah siswi Sekolah Menengah Atas di salah satu Sekolah Swasta yang ada di Bandung. Walaupun umurku sudah menginjak usia 17 tahun tapi jujur aku belum pernah merasakan apa itu arti dicintai, bukan karena aku tidak pernah merasakan jatuh cinta tapi memang karena rasa cinta itu tak pernah terbalaskan.
*** Di Sekolah***
            Nampak dari kejauhan terlihat sosok pria tinggi berpenampilan rapi dan berwibawa berjalan menghampiri ruangan disebrang kelasku. Aku tak tahu mengapa setiap kali aku melihatnya jantung ini serasa berdetak lebih kencang dan seakan ingin keluar dari dalam tubuhku. Tuhan, mungkinkah aku menyukainya?  Dan mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
“Van, kamu liat nggak tadi cowok yang jalan ke arah sebrang kelas kita?” tanya Linia teman terbaikku
“Hemm liat, itu Arya kan?” tanyaku balik.
“Iya bener banget, ya ampun Van Arya ganteng banget ya?”
“Linia kamu suka ya?”
“Iya.” Jawab Linia singkat sambil pergi meninggalkanku yang masih tak percaya mendengar perkataan Linia tadi.
            Tuhan apa yang harus aku lakukan ternyata temanku sendiripun diam- diam menyukai orang yang selama ini aku kagumi. Tuhan aku harus bagaimana? Apakah aku harus melupakan orang yang aku kagumi demi temanku.
            Akhirnya dengan perlahan aku lebih memilih meninggalkan perasaanku selama ini dan membiarkan temanku menyukai orang yang aku kagumi dan harapkan kehadirannya disampingku.
*******
            Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan perasaan ini dimana aku melihat temanku bahagia dengan dia dan mungkin diapun lebih bahagia dengan temanku disampingnya. Jujur untuk membiasakannya bukanlah hal yang mudah untukku, itu semua membuatku cukup tersiksa dan menderita.
            Namun perasaan tersiksa itu perlahan- lahan mulai menghilang disaat aku mengenal sosok Kiki yang tak lain adalah teman satu kelasku. Kini aku mulai mengerti arti kehilangan demi mendapatkan sesuatu yang lain sesuatu yang menurutku jauh lebih istimewa dibandingkan dengan yang sebelumnya.
            Tapi belum sempatku merasakan kebahagiaan itu dengan lama, kenyataan pahit harus sudah siap ku jalani dimana aku tahu lagi lagi dan lagi salah satu teman terbaikku diam- diam mengagumi Kiki. Dan mungkin yang lebih sakitnya lagi dia bukan hanya mengaguminya tapi bahkan menyukainya dan sangat menginginkan kehadirannya. Tuhan apa yang harus aku lakukan lagi? Apa harus aku melepaskannya demi temanku lagi? Tuhan jujur aku sudah cukup tersiksa dengan yang sebelumnya, tapi Tuhan akupun tak ingin bersaing dengan temanku sendiri karna aku tak ingin kehilangan teman terbaikku. Bantu aku Tuhan untuk merelakan dia bersama temanku dan permudahkanlah aku untuk mengikhlaskannya walau aku tahu Tuhan itu takkan mudah bagiku.
            Akhirnya dengan perasaan yang cukup memberatkanku ini, lagi lagi dan lagi aku merelakan orang yang aku kagumi kulepaskan untuk teman terbaikku dan berharap suatu saat nanti ini tak akan pernah terjadi lagi kepadaku.
*******
            Hingga suatu hari aku mulai mendapatkan jawaban dari harapanku dimana untuk kali ini aku mengagumi orang yang temanku tak mengaguminya. Namun itu tak semudah dan seindah yang ku pikirkan. Karena memang kali ini aku bukanlah bersaing dengan temanku melainkan aku bersaing dengan perasaanku sendiri yang harus merelakan orang yang aku kagumi tenyata dia lebih mengagumi teman terbaikku, dimana aku tahu perasaan yang ada saat ini adalah salah dan seharusnya ini tak pernah boleh terjadi. Tuhan, aku mengagumi dan menyukai dia dan aku tak tahu apakah dia kelak akan menyukaiku pula. Tuhan, aku tahu perasaan ini salah dan jika kau ijinkan aku ingin menghapus semua perasaan yang datang menyapaku saat ini dan aku lebih memilih untuk tak pernah merasakannya jika aku tahu kalau pada akhirnya aku harus terluka dengan semua ini.
            Tuhan mengapa aku yang harus mengalami semua ini? Mengapa aku tak pernah mendapatkan orang yang selama ini aku sukai dan aku kagumi? Mengapa bukan dia atau mereka saja Tuhan yang merasakannya? Tuhan mengapa harus aku?
            Tuhan jika memang dia bukan untukku dan jika memang aku tak dapat mengenggam atau bahkan aku tak bisa menyentuhnya sekalipun, maka ijinkan aku Tuhan untuk memberikan sisa umurku untuk mengaguminya walau dalam hati saja. Dan aku sadar Tuhan aku tak dapat menuntutMu untuk membuatnya bisa menyukaiku. Kan kutunggu semuanya mengalir apa adanya seperti air dan berharap Engkau bisa membuat ia setidaknya mengerti bahwa aku disini mengaguminya dan berharap dapat memilikinya tapi bukan untuk ia kasihani karena perasaanku padanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar