followers

Minggu, 14 Oktober 2012

cerpen apa salahku?


APA SALAHKU???
Oleh : Novia Rhoza


APA SALAHKU KAU BUAT BEGINI KAU TARIK ULUR HATIKU HINGGA SAKIT YANG KURASA APA MEMANG INI YANG KAMU INGINKAN TAK ADA SEDIKITPUN NIAT TUK SERIUS KEPADAKU....
S
epertinya sepenggal lagu d’Masiv itu memang sangat cocok dengan keadaanku yang seperti ini.
Semula semua kehidupanku dengan Rangga sangatlah baik-baik saja dan dulu kami selalu beranggapan bahwa dunia hanyalah milik kami berdua. Tapi sekarang kenyataannya semua adalah bulshit semua adalah ungkapan palsu yang yang takkan pernah menjadi nyata.
Namaku adalah Natasha Allena aku adalah seorang mahasiswi disebuah fakultas jurusan Sastra di Bandung. Semua masalah,beban dan penderitaan yang kujalani berawal dari Rangga.
            ***************
“Nat,kita pulang bareng yuk!” ajak Rangga
“Mmm,Boleh tapi sebelum kamu antarin aku kamu antar aku beli kue dulu ya buat mamah,soalnya sekarang mamah ulang tahun.” Jawab Nata memperjelas
“Oh itu sih gampang .Eh tadi kamu bilang hari ini mamamu ulang tahun berati kebetulan banget kalo gitu, biar aku ikutan patungan ya buat beli kuenya ya itung-itung salam perkenalan dari aku gitu.”
Aku tak menjawab perkataan Rangga tadi, aku hanya tersenyum kecil yang tak lain memberikan isyarat kepadanya bahwa aku setuju dengan ucapannya. Rangga emang belum kenal dengan mamaku, karena aku belum pernah bawa temen cowok ke rumah untuk dikenalin ke mamah.
*** sesampainya dirumah***
“Hai mah selamat ulang tahun ya wish you all the best mom.”
“Makasih sayang. Loh di samping kamu siapa ko mamah baru liat kamu bawa temen ke rumah.” Tanya mamah yang dari tadi matanya mengarah ke Rangga.
“Mmm..Oh ini Rangga mah, dia temen aku di kampus. Eh Rangga kenalin ini mamah aku.” Jawab Nata dengan nada grogi, maklum semenjak papahnya pergi entah kemana Nata nggak pernah kenalin temen cowok ke mamahnya.
“Oh ya mah ini aku sama Rangga beliin kue buat mamah. Emm biar aku bawa masuk dulu ya mah kuenya.” Tambah Nata untuk mencairkan suasana hatinya.
“Nak Rangga satu jurusan dengan Nata?”  
“Oh nggak tante, saya jurusan seni.”
“Emm gitu ya.Tante cuma pesen jangan bikin Nata kecewa.”
“Maksud tante?”
“Udahlah nanti juga kamu bakalan tahu sendiri .Tante masuk dulu ya biar tante panggilin Nata.” Jawab mamah singkat sambil ngeloyor ninggalin Rangga yang masih bengong  karena nggak tahu apa maksudnya.
            ***************
“Rangga ngapain kamu disitu?” tanya Nata dengan nada yang seakan-akan nggak suka dengan posisi Rangga yang lagi anteng liat-liat foto.
“Ini pasti foto kamu sama orangtua kamu. Oh ya mana papah kamu kok aku nggak dikenalin?”tanya balik Rangga.
“Dia nggak ada.” Singkat Nata
“Nggak ada? Maksudnya lagi kerja gitu?  Emang sih papah aku juga emang jam segini nih lagi sibuk- sibuknya kerja tapi dia suka nyempetin buat nelpon kasih kabar gitu ke aku, pokoknya papah aku tuh emang....”
“Stoppp stop Rangga berhenti kamu ngomongin tentang papah kamu” potong Nata dengan nada menyentak.
“Kamu kenapa Nata? Ada yang salah sama omongan aku barusan, kalo ada aku minta maaf aku nggak bermaksud buat....” balas Rangga dengan nada memelas.
“Sssstttt... sekarang mendingan kamu pergi dari sini soalnya aku ngantuk banget mau tidur.” Jawab Nata dengan nada seolah-olah mengusir Rangga dari rumahnya.
“Loh kok gitu Nat?”
“Pokoknya kamu sekarang pulang deh Rangga aku capek banget.”
“Ya udah aku pulang dulu, salam buat mamah sama papah kamu.”


***Keesokan harinya di kampus***
“Nata...” teriak Rangga saat melihat Nata dengan Ayu dan bergegas untuk menghampirinya.
“Aduh Ayu aku tiba-tiba sakit perut  ,aku ke wc dulu sebentar ya.”Alasan Nata saat melihat Rangga yang menghampirinya.
“Loh yu Natanya kemana kok aku samperin dia malah pergi?” tanya Rangga heran
“Katanya sih dia sakit perut.”
“Sakit perut? Dia pasti masih marah sama aku.”
“Marah? Kenapa harus marah? tanya ayu heran
“Iya marah. Kemarin kan aku nganterin Nata sampai ke rumah terus aku minta dikenalin ke orangtuanya tapi aku cuma dikenalin sama mamahnya aja.”
“Terus?”
“Terus aku tanya dong papah kamu mana kok aku nggak dikenalin, nah dari situ sikap dia langsung aneh gitu sama aku.
“Aduh Rangga odong sumpah odong banget sih lo.”
“Kok malah kamu ikutan marah gitu sih sama aku?Harusnya kamu sebagai sahabatnya Nata kamu bantuin aku dong yu.”
“Iya nanti aku bantuin, tapi kamu kenapa nanya-nanya tentang papahnya Nata, Rangga?” tanya Ayu gemes.
“Iya kan aku pengen tahu masa aku cuma liat difoto aja. Emangnya aku salah ya nanya kaya gitu?”
“Ya iyalah salah, salah banget malahan. Seharusnya kamu nggak nanya kaya gitu ke Nata.”
“Kenapa?”
“Panjang ceritanya.”
“Aku punya banyak waktu kok untuk ngedenger cerita dari kamu.” Kekeh Rangga.
“Kalo aku ceritain kamu janji ngga bakalan bilang sama Nata lagi. Janji nggak?”tanya Ayu balik.
“Iya iya aku janji. Kenapa emangnya?”
“Gini nih ceritanya,..................... (Ayu mulai menceritakan semuanya yang berhubungan dengan papahnya Nata dari A sampe Z kepada Rangga) dan intinya dulu papahnya ninggalin Nata waktu masih kecil sama mamahnya gara-gara perempuan lain dari kejadian itu Nata nggak suka kalo ada yang nanya-nanya tentang papahnya, gitu ceritanya, ngerti kan?”
“Pantes aja dia marah sama aku. Uh dasar Rangga odong banget sih lo.” kata Rangga pada dirinya sendiri.
“Ok aku udah ngerti apa permasalahannya, thank’s  ya Ayunda Putri Pertiwi sahabatnya Nata yang palingggg baik dan cantik.”tambah Rangga dengan maksud memuji Ayu.
“Ok kalo gitu aku masuk dulu soalnya ada kelas. Dah Rangga.”
“Iya makasih ya Yu.”
            **************
“Nata tunggu, Nata ijinin aku ngomong dulu.”
“Maaf Rangga aku sibuk.”
Please Nata,ijinin aku ngomomg dulu nanti setelah aku ngomomg kamu berhak mau pergi atau apa terserah kamu.”
“Ok Rangga aku kasih kamu waktu dua menit dari sekarang.”
“Nata aku minta maaf karena kemarin aku ngga seharusnya nanya kaya gitu,sekarang aku udah tau semuanya.”
“Maksud kamu semuanya apa?” tanya Nata sinis.
“Semuanya Nata semuanya,semuanya tentang papah kamu.”
“Tahu apa kamu tentang papah aku?”
“Aku tahu semuanya dari awal, dari mulai papah kamu berubah sikapnya pas kamu ulang tahun yang ke-3 sampai papah kamu....” Rangga tak berani meneruskan omomgannya karena ia tahu tak seharusnya ia mengatakan semua itu terlebih lagi ia melihat matanya Nata yang telah berkaca-kaca.
“Terus sekarang kamu mau apa Rangga? Mau apa? Apa kamu mau ketawain aku? Atau mungkin kamu bakalan ngasih tahu ke semua penhguni kampus disini kalau aku nggak punya papah yang bisa aku banggain, iya Rangga?” tanya Nata dengan lirih sambil menahan bendungan air matanya yang siap mengalir di pipinya.
“Engga Nata kamu salah besar justru aku...”
“Aku apa Rangga?”
“Aku bakalan ngelindungi kamu, aku nggak sejahat yang kamu kira. Percaya Nata aku tulus ingin ngelindungi kamu.” balas Rangga sambil memeluk erat Nata.
“Lepas Rangga.” Teriak Nata sambil mencoba melepaskan pelukan Rangga.
“Nggak Nata aku nggak bakalan lepasin kamu, karna aku ingin ngelindungi kamu Nata.”
“Rangga aku mohon lepasin aku.”
“Nggak Nata, nggak akan.”
“Rangga lepasin aku sekarang.” sentak Nata
Dengan berat hati Rangga pun melepaskan Nata dari pelukannya. Yang kemudian Nata malah memilih pergi meninggalkan Rangga.
“Nata kamu mau kemana?”
“Rangga maaf aku lagi pengen sendiri.” singkat Nata sambil berlari meninggalkan Rangga.
            ****************
Walaupun awalnya Nata tak begitu me-respect  kehadiran Rangga yang selalu hadir disisinya, lambat laun akhirnya mereka dapat berteman baik dan kini Nata yakin dengan apa yang dikatakan Rangga bahwa ia akan melindunginya. Hari demi hari,dan bulan demi bulan terus berganti mengiringi perjalanan pertemanan antara Nata dan Rangga hingga suatu hari tepat di ulang tahunnya Nata ke 20 Rangga memilih untuk melamar Nata.Memang sedikit ironis melihat pertemanan yang dijalin mereka bisalah di bilang kurang dari 1 tahun.Mendengar apa yang dikatakan Rangga serontak membuat Nata kaget karna pasalnya Rangga melamar. Bayangkan saja nembak aja nggak pernah ini malah langsung lamaran dan itu berarti tak lama lagi aku akan menyandang gelar nyonya Rangga.
“Maaf Rangga,aku belum bisa jawab keputusan kamu tadi karena jujur aku kaget banget.”jawab Nata
“Ok aku ngerti kamu pasti kaget dengan keputusan aku yang terlalu cepet.Aku nggak maksa kamu kok Nat untuk jawab sekarang, percaya deh aku cuma pengen jadi orang yang bisa selalu jagain kamu.”
“Makasih Rangga.Oh ya aku minta waktu dua minggu untuk mikirin ini dan aku juga minta selama aku mikirin ini kita nggak ketemuan,smsan,telponan atau hal-hal yang berhubungan dengan kamu,gimana?”
“Loh, kenapa?”
“Aku cuman pengen mastiin aja, sebenarnya aku sanggup apa nggak.”
“Ya udah aku bakalan ngikutin semua keputusan kamu walaupun rasanya itu pasti berat banget buat aku.”
Thank’s Rangga.”

***dua minggu kemudian***
Kringggg kringggg bunyi telepon rumah Rangga berdering....
“Hallo assalamualaikum.”
“Iya waalaikum salam, hallo bener ini rumahnya Rangga Sastra Adiwiguna?”
“Iya benar ini rumahnya den Rangga.Maaf ini siapa?”
“Emm,saya Natasha temennya Rangga,Rangganya ada?”
“Oh den Rangganya ada,apa perlu bibi pangilin non?”
“Oh nggak usah bi,aku cuma mau titip pesen aja boleh?”
“Loh kenapa nggak usah non, mending bibi panggilin aja ya non ya.”
“Jangan bi nggak usah, kebetulan hubungan aku sama Rangga lagi kurang baik gitu bi.”
“Oh gitu ya non, memangnya non mau titip pesen apa ya non ya?”
“Gini bi tolong bilangin ke Rangga kalo besok aku mau ngajak ketemuan di  tempat pertama kali ketemu jam 5 sore,sama tolong bilangin jangan sms atau telepon balik.”
“Oh ya non nanti bibi sampaikan sama den Rangga.”
“Makasih bi,assalamualaikum.”
“Iya non,waalaikum salam.”
***keesokan paginya di rumah Rangga***
“Den Rangga kemarin ada temennya aden nelpon,namanya Na Na aduh Na siapa ya bibi lupa den.”
“Maksud bibi Natasha?”
“Nah iya den non Natasha.’
“Kenapa bibi nggak panggilin aku? Terus kenapa bibi baru bilang sekarang?”
“Bibi mau panggilin aden tapi nggak enak adennya udah tidur,mana tidurnya nyenyak lagi den,lagi pula non Natasha sendiri yang...”
“Yang apa bi?” tanya Rangga heran karna bibi tidak melanjutkan pembicaraannya. “Ok, terus Natanya bilang apa?”
“Katanya dia pesen sekarang jam 5 sore dia ngajakin ketemuan di tempat pertama kali ketemu tapi kata non Natasha sendiri aden diminta untuk nggak nelpon atau sms balik.”
“Loh kenapa bi?”
“Maaf den bibi juga nggak tau soalnya cuma itu yang di bilangin sama non Natasha.”
“Oh gitu ya bi,ya udah deh makasih ya bi.”
“Iya den.”  
***Jam 17.25 di taman strawbery tempat Nata dan Rangga pertama kali bertemu***
“Rangga” panggil Nata pelan.
“Eh,kamu Nat.”
“Maaf...,”ucap Nata tapi tak melanjutkannya lagi.
“Maaf?untuk?” tanya balik Rangga.
“Maaf untuk aku datang nggak ontime dan maaf untuk”lagi-lagi Nata nggak ngelanjutin omongannya.
“Ayolah it’s ok” jawab Rangga dengan nada meyakinkan
“Maaf aku belum bisa menuhi permintaan kamu yang ingin melamarku.” Walaupun singkat tapi aku yakin itu sangat mengecewakan bagi Rangga.
“Why?”
“Aku belum bisa Rangga,aku belum tahu lebih dalam siapa kamu dan apa iya kamu memang jodoh aku.”
“Oh..” giliran Rangga yang nggak ngelanjutin omongannya.
“Gini aja Rangga untuk meyakinkan aku,aku pengen kita jalani aja dulu ini semua mau kan?”
“Ok” jawab Rangga dengan nada yang tak begitu suka.
            **************
Akhirnya dua bulan berlalu dan................
“Rangga, apa kamu masih mau mengajakku nikah?”
“Iya lah Nata kalo nggak ngapain aku setia sama kamu sampai saat ini.”
“Kamu yakin Rangga dengan ajakan kamu?”
“Benar-benar  yakin Nat karena aku cinta kamu”
“Apa aku bisa pegang semua ucapan kamu Rangga?”
“Ya Nat, kamu bisa pegang ucapan aku karna aku jujur dan aku tulus.”
“Walaupun aku banyak kekurangannya?”
“Enggak Nat dimata aku kamu sempurna, sekalipun aku punya kekurangan tapi aku akan menutupi kekurangan kamu itu dengan kelebihan yang kamu punya Nat.”
“Walaupun nantinya kamu nggak bakalan bahagia sama aku?”
“Cukup Nata, menikah dengan kamu adalah kebahagiaan terbesar untuk aku dan aku yakin itu semua.”
“Rangga, apa kamu yakin dengan memilih aku?”
“Ya Nata aku yakin, yakin sekali. Apa aku terlihat seperti bohong dimata kamu?”
“Nggak Rangga,kamu benar.”
“Jadi,apa kamu mau menikah dengan aku?”
“Iya Rangga aku mau.”
Seketika Rangga tersenyum bahagia mendengar ucapan yang terlontar dari mulut manis Nata.
            ****************
Dari semenjak hari itu Nata dan Rangga sibuk mencari tanggal yang cocok untuk hari yang sangat sakral bagi mereka berdua.Namun bencana sesungguhnya datang saat semua orang sedang bahagia.
Selama aku masih bisa bernapas masih sanggup.....nada dering telepon genggam Nata berdering yang tak heran dari sang calon mempelai pria.
“Hallo boy.”ucap Nata singkat
“Kamu dimana?udah seminggu ini kamu jarang ngasih kabar ke aku?”tanya Rangga yang seakan-akan menginstrogasi pacarnya itu.
 “Loh kok kamu kaya yang lagi instrogasi aku gitu sih?”
“Iyalah aku kaya gitu habisnya kamu udah semingguan nggak ada kabar,sms aja nggak pernah seakan akan kamu ngga peduli.”
“Nggak peduli maksud kamu?”
“Maksud aku ya kamu udah beda sama Nata yang aku kenal dulu, kamu berubah Nat.”
“Loh kok gitu? aku ini peduli banget sama kamu buktinya udah seminggu ini aku cari tempat,catering,baju,undangan.Itu semua buat siapa coba, buat kita kan? Yang ada kamu yang nggak,peduli buktinya kamu sibuk kan bikin project.” Jawab Nata dengan nada setengah marah.
“Kamu kok kaya gitu sih?aku juga ngelakuin ini buat kamu juga.”
“Udahlah Rangga aku males berantem sama kamu.Udah ya”tambah Nata sambil mematikan ponselnya.
            ***********************
Dari kejadiaan itu mereka berdua udah jarang kontek-kontekan lagi.
Dan pada suatu hari di tempat kostannya Rangga,Nata berniat memberikan kejutan sama Rangga.Tapi disitu bukan Rangga yang terkejut melainkan Nata sendiri.
“RANGGA!!!”teriak Nata yang dari tadi asyik menyaksikan adegan kepala Sindi menempel di bahu Rangga.
“Nata.” jawab Rangga kaget dan melepaskan sandaran kepala Sindi dari bahunya.
“Kamu” balas Nata dengan rasa tak percaya.
“Nata ini semua nggak seperti yang kamu liat,aku sama Sindi Cuma lagi share tentang masalahnya Sindi.”ujar Rangga yang mencoba meluruskan keadaan karena ia tahu pasti Nata kecewa banget.
 “Aku nggak nyangka sama kamu,kamu tega kaya gini.”
“Nata,aku dengan Rangga emang nggak ada apa-apa dan bener apa yang tadi Rangga omongin kita cuma lagi sharing aja.”giliran Sindi yang angkat bicara.
“Diem kamu,aku nggak lagi ngomong sama kamu dan suruh siapa kamu ngomong dasar perebut pacar orang.”balas Nata dengan nada sinis.
“NATA!!”teriak Rangga yang nggak percaya pacarnya yang baik bisa berkata seperti itu.
“Asal kamu tahu dulu kamu emang pacarnya Rangga,tapi sekarang kamu bukan siapa-siapanya Rangga,ngaca Sindi ngaca siapa kamu sekarang dan harusnya kamu sadar kalo Rangga sebentar lagi akan menikah dan kamu nggak punya hak buat deket-deket dia lagi.” Ujar Nata yang kembali berkata sinis kepada Sindi.
Sindi hanya bisa menangis karena ia tahu semua memang salahnya.
“Nata,udah cukup.” Ucap Rangga.
“Diem kamu Rangga, harusnya kamu belain aku bukan belain cewek itu atau jangan-jangan selama ini kamu bikin project cuma alasan aja biar kamu bisa bebas dari pekerjaan ngurusin acara pernikahan dan supaya kamu bisa bebas berduaan bareng dia,ia Rangga?”
dan.....
PLAKKKK sebuah tamparan melayang dipipi Nata.
“Rangga kenapa kamu tampar aku?”tanya Nata dengan diiringi nada isak tangis.
“Maafin aku Nata, tapi kamu nggak seharusnya ngomong kaya gitu,dimana Nata yang aku kenal selama ini Nata yang baik,Nata yang ngertiin orang,Nata yang nggak pernah bikin orang sakit hati,dan Nata yang lain” tambah Rangga.
“Cukup Rangga,aku kesini cuma mau ngasih contoh undangan buat kita sebar.Aku minta maaf kalo aku udah bukan jadi Nata yang kamu kenal selama ini dan aku udah nggak peduli sama ini semua dan terserah kamu undangan itu mau dilanjutin atau...”balas Nata sambil bergegas meninggalkan Rangga dan Sindi.
            ******************************
Setelah kejadian itu Rangga berulang kali minta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Nata dan meminta agar pernikahannya dengan Nata tetap berjalan.Dan Nata setuju dengan semua itu karena ia tahu Rangga nggak mungkin ngelakuin hal seburuk itu.Dan Teng hari itu tiba,semua orang telah memadati halaman Masjid tempat berlangsungnya acara akad nikah.Tapi....
“Bu, Rangga mana?”tanya Nata kepada mamahnya Rangga yang baru datang
“Loh Rangga belum datang? Ibu pikir dia udah datang dari tadi soalnya tadi pagi jam 6 dia udah berangkat dari rumah lengkap menggunakan baju pengantin kalian.”Jawab ibu Rangga dengan nada tak percaya.
“Udah kamu telepon?”ujar mamah yang mencoba menenangkanku.
“Udah mah,tapi hpnya nggak aktif.”Tambah Nata dengan nada panik.
Mendengar ucapan ibunya Rangga,Nata sepertinya tahu dimana sekarang Rangga berada.
“Loh mau kemana sayang?tanya mamah yang melihat Nata pergi meninggalkan Masjid.
“Aku mau cari Rangga mah.”
“Jangan sayang,biar mamah suruh supir aja ya kan acaranya udah mau mulai.”
“Nggak mah biar aku aja yang cari Rangga,mamah percaya sama aku ya.”
“Tapi sayang”
“Mah percaya ya sama Nata sekali aja mah.”
Mendengar perkataan putri tersayangnya mamah pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Nata pergi mencari Rangga.
            ************
Ternyata mobil yang dikemudikan Nata berhenti di jalan Merpati No.3 yang tak aneh adalah kostannya Rangga.Namun kejutan itu datang lagi,kali ini bukan adegan rebahan di bahu lagi tapi melainkan adegan Rangga memeluk cewek yang tak lain adalah...
“Sindi”bisik Nata yang sekaligus memecahkan keheningan di ruang tamu itu.
Tanpa banyak bicara Nata lebih memilih pergi meninggalkan Rangga dan Sindi.Belum sempat Rangga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Lalu mobil yang dikendarai Nata telah melesat meninggalkan kostan Rangga.
Di perjalanan Nata hanya bisa melunturkan make-upnya dengan banjiran air mata dan masih di hantui oleh puluhan bahkan jutaan pertanyaan yang mungkin dia sendiri nggak ngerti maksud dari semua ini.Rasanya hati bagaikan ditusuk dan diiris oleh pedang yang tak tajam yang mencoba merobek hati walaupun dengan susah payah.Namun naas bagi Nata belum sempat ia kembali ke mamahnya ia harus mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju Masjid tempat akad nikah berlangsung.
            **********************
Kringggggg....kring.... bunyi ponsel Rangga memanggil.Alangkah senangnya ia mengetahui bahwa Nata yang menghubunginya itu.
“Hallo Nata,kamu dimana maafin aku ya, aku janji aku bakalan jelasin semuanya ke kamu tapi kamu dimana sekarang aku udah ada di masjid tempat akad nikah kita.”
Namun alangkah kagetnya Rangga saat ia mengetahui bahwa yang meneleponnya bukanlah Nata melainkan adalah pihak kepolisian yang memberikan kabar bahwa Nata terbaring koma akibat kecelakaan yang menimpanya.
Dengan hati dan perasaan yang cemas Rangga beserta orang tua Nata dan rombongan lainnya bergegas menuju Rumah Sakit yang dimaksud.

***Sesampainya di Rumah Sakit***
Dengan nafas yang tergesa-gesa Rangga berlari menyusuri koridor Rumah Sakit untuk mencari ruangan tempat Nata dirawat. Namun sayangnya saat membuka pintu kamar UGD kejutan kembali datang. Ia melihat Nata yang terbaring lemah dan terkujur kaku telah ditutupi kain putih.
Seketika tubuh Rangga tak dapat di gerakan,rasa tak percaya bahwa Nata telah meninggal dengan baju pengantin yang berlumuran darah yang ia kenakan untuk acara pernikahannya.

Dan berarti pertemuan tadi itu dengan Nata adalah pertemuannya yang terakhir kalinya??
“TIDAKKKKKKKKKKKK” teriak Rangga memecahkan kebisuan di rumah sakit sambil memeluk erat tubuh kekasihnya itu dan seakan tak percaya bahwa Nata telah tiada untuk selamanya dengan membawa semua cerita yang telah di ukir bersama Rangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar